Kamis, 25 April 2019

5 Kewajiban Anak Saat Orang Tua Sudah Meninggal Dunia

Assalammualaikum Wr.Wb

Hai EmakCantik

Hari ini adalah hari ke 13 kepergian Emak saya. Jadi Emak meninggal dunia pada tanggal 06 April 2019. Pada Pukul 02.00 wib. Di rumah kami di kelurahan Tengah Padang Kota Bengkulu. Masih sedih dan lara menyeliputi saya dan keluarga. Meski juga sudah mulai berusaha untuk bertahap menjalani hidup tanpa kehadiran seorang ibu.

Saat ini saya dan suami, sama-sama dalam kondisi yatim piatu. Sebelum menikah, suami masih memiliki bapak. Artinya anak-anak kami, masih mengenal sosok seorang kakek. Meski hanya kakak Nawra yang lumayan lama mengenal kakeknya, sedangkan Athifah hanya sebentar saja. Untuk Annasya malah belum pernah bertemu sama sekali dengan sosok kakeknya.

Saya hanya  memiliki seorang ibu…

Kedua orang tua kami tersebut dalam kondisi sudah sepuh dan berusia di atas 70 tahun. Mereka meninggal, semuanya sama . Di awali dengan sakit yang menahun. Kami sebagai anak-anaknya. Sudah cukup puas untuk merawat dan memelihara mereka saat tua. Meski harus diakui, bahwa haltersebut tidaklah akan bisa membalas semua jasa dan kebaikan kedua orang tua kita.

Nah, sekarang baik Emak dan Bapak Mertua sudah meninggal dunia..

Lalu, sebagai anak . Hal apa saja yang bisa dilakukan oleh anak-anaknya setelah orang tua meninggal. Apa saja kewajiban seorang anak kepada orang tua yang sudah meninggal.


 
Ini EmakCantik saya kutip dari http://www.suaraaliman.com mengenai Kewajiban-kewajiban anak setelah orang tuanya meninggal dunia.

1. Amalan shalih yang dilakukan anaknya

Seorang anak hendaknya bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah, karena setiap amal shalih yang dikerjakan sang anak pahalanya akan sampai kepada kedua orang tua yang beriman walaupun ia tidak mengatakan, “amal ini aku hadi¬ahkan untuk ibu atau ayahku”, ataupun ucapan yang semisal, karena anak meru¬pakan bagian dari usaha orang tuanya, dan hal itu sama sekali tidak mengurangi pahala sang anak. Sebagaimana yang Allah  firmankan:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”           QS. an-Najm [53]: 39

Dan anak merupakan bagian dari usaha orang tuanya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:

إنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ وَإنَّ أَوْلَادَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ

“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian makan adalah dari usaha kalian, dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk bagian dari usaha )HR. at-Tirmidzi: 1358, Ibnu Majah: 2290 dan Ahmad: 6/162 kalian.” (lihat Shahih Ibnu Majah: 1854))

Dan apabila seorang anak menjalankan ketaatan, seperti shalat, puasa, dan amalan ketaatan lainnya, maka tidak perlu sembari mengatakan, “aku berikan pahala ibadah ini untuk kedua orang tuaku”, karena pahala ibadah tersebut akan sampai kepada orang tua, justru pengucapan tersebut tidak ada dasarnya dari Hadits Nabi shallallahu'alaihi wa sallam maupun praktik para Sahabat.

2. Doa anak yang shalih kepada kedua orang tua dan memintakan ampunan atas dosa-dosanya

Allah  berfirman:

 رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihi¬lah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.”                 QS. al-Isra` [17]: 24

 Dan Rasulullah shallallahu'alaihi was sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

”Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalannya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang (HR. Muslim: 1631) mendoakannya.”

3. Termasuk berbuat baik kepada orang tua setelah meninggalnya adalah dengan cara memuliakan teman-temannya, sanak kerabat dan saudara-saudaranya
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ
”Kebaikan yang terbaik adalah jika seseorang menyambung orang yang disenangi bapaknya.”(HR. Muslim: 2552) Dalam hadits yang lain dari Abu Burdah  radhiyallahu'anhu, beliau mengatakan: “Aku datang ke kota Madinah lalu datanglah kepadaku Abdullah Ibnu ‘Umar seraya berkata: ”Taukah kamu kenapa aku datang kepadamu?”, maka aku menjawab: “Aku tidak tahu.” Maka beliau Ibnu ‘Umar mengatakan: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu'alahi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِيْ قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيْهِ بَعْدَهُ
”Barangsiapa ingin menyambung orang tuanya setelah meninggalnya, hendaklah ia menyambung teman-teman (saudara) orang tuanya setelahnya dan sesungguhnya antara ayahku (Umar) dan ayahmu memiliki tali persahabatan dan saling mencintai, maka aku ingin menyambung hal itu (setelah (HR. Ibnu Hibban: 2/175, termaktub dalam Shahih matinya, pent).” al-Jami’: 5960)

Sungguh para Sahabat sangat memahami hal tersebut dan mereka sangat memperhatikannya. Sebagai penguat hadits dan contoh di atas adalah apa yang dilakukan oleh Sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu'anhuma juga, bahwasanya beliau memiliki seekor keledai yang biasa beliau tunggangi dan imamah yang biasa untuk mengikat kepalanya. Tatkala beliau berada di atas keledai¬nya, tiba-tiba lewatlah seorang Arab badui, beliau¬pun berkata kepada¬nya, “bukankah anda fulan anaknya fulan?” Maka si badui pun berkata: “benar”, kemudian beliau memberikan keledai¬nya kepada badui tersebut sambil mengatakan: “naikilah keledai ini dan pakailah imamah ini untuk mengikat kepalamu”. Mendengar hal tersebut, berkatalah sebagian sahabatnya, “Mudah-mudahan Allah mengampuni dosamu, kamu memberikan keledai yang senantiasa kamu tunggangi dan imamah yang senantiasa kamu pakai untuk mengikat kepalamu”, maka Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyallahu'anhuma mengatakan, “aku mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ
”Termasuk kebaikan yang paling baik adalah seorang anak menyambung hubungan dengan keluarga orang yang dicintai orang tuanya setelah meninggalnya”. (HR. Muslim: 2552) 
Dan dahulu bapak orang badui tersebut adalah teman baik ‘Umar.

4. Termasuk berbakti kepada orang tua setelah meninggalnya adalah dengan bersedekah berupa ilmu, membangun masjid, menggali sumur, memberi mushaf, dll dari amal jariyah yang akan sampai pahalanya kepada orang tuanya

‘Aisyah radhiyallahu'anha meriwayatkan, bahwasanya seseorang pernah berkata kepada Nabi shallallahu'alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba dan tidak sempat berwasiat, dan aku mengira jika dia bisa berbicara maka dia akan bersedekah, apakah baginya pahala jika aku bersedekah untuknya dan apakah aku juga akan mendapatkan pahala?”, maka Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Ya”. Kemudian orang tadi mengatakan, “Aku bersaksi bahwa kebun yang berbuah ini aku sedekahkan atas namanya.” (HR. al-Bukhari: 2605 dan Muslim: 1004)

Dan dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, bahwa ada seseorang yang mengatakan kepada Nabi shallallahu'alaihi wa sallam, “Sesungguhnya orang tuaku meninggal dan telah meninggalkan harta dan tidak mewasiatkan apa-apa, apabila aku bersedekah dengan meniatkan untuk orang tuaku, apakah hal itu akan menghapus dosanya?,” Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menjawab, “Ya”. (HR. al-Bukhari: 2605)

Tentang hadits shahih ini, kita tetapkan apa adanya, akan tetapi walaupun sang anak tidak meniatkan pahala untuk orang tuanya pun secara langsung pahala tersebut akan sampai, karena anak merupakan bagian dari usaha orang tua, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya.

5. Menunaikan wasiatnya jika tidak melanggar syar’i, membayarkan hutangnya baik harta maupun puasa nadzar

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ، صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

(HR. Bukhari, Muslim, dll) “Barangsiapa yang meninggal dan masih menanggung hutang puasa, maka walinya yang menunaikannya.”

Semoga tulisan ini bermanfaat ya EmakCantik semuanya, salam.

0 komentar