Kamis, 07 Februari 2019

Asal-usul Drama dan Strategi Pembelajaran Drama

 Assalammualaikum.Wr.Wb

Apakabar Emak Cantik, kali ini kita akan bahas seputar Drama ya Mak. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan seputar drama , termasuk asal usulnya.

Asal-usul Drama

Istilah drama berasal dari bahasa Yunani (dran) bermakna to do atau to act arti dalam bahasa Indonesia ‘perbuatan’, ‘tindakan’. Riris K. Sarumpaet (1977: 21). 

Drama adalah ragam sastra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas. Secara lebih khusus, drama menunjuk pada lakon yang serius dapat berakhir suka, maupun duka. Di samping itu karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung (Panuti Sudjiman,1984: 20).

Dalam perkembangannya drama dipentaskan dan membutuhkan tempat, di Yunani disebut theatron diartikan a place for seeing atau tempat tontonan. Sekarang dikenal dengan nama teater. Jadi kata teater muncul sesudah kata drama. 

Dengan demikian jika dilihat dari asal usul kata, kata drama dan teater jelas berbeda artinya. Dalam perkembangannya kata drama bermakna tetap, sedangkan kata teater meluas maknanya, yaitu susunan tempat pementasan dan diartikan pula ‘sebuah kejadian’ atau ‘peristiwa sedang berlangsung’. 

Dengan kata teater, mampu mengetahui warisan budaya drama sebagai jenis sastra, termasuk pementasan pantomim, pertunjukan rakyat, wayang kulit, golek, monolog, dan cabaret. Makna kata teater sekarang lebih luas, yaitu pertunjukkan atau tempat-tempat yang terkait dengan film, radio, dan TV.


Drama Remaja

Dengan mempelajari drama, dapat membantu para siswa terampil berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan karsa, serta dapat menunjang pembentukan watak para siswa. 

B. Rahmanto dan P. Hariyanto (1997: 7.27) mengatakan bahwa pengajaran drama di sekolah menengah dapat dimanfaat sebagai alat pembentukan kepribadian yang bulat, antara lain dengan cara mendididik watak, memupuk keberanian menyatakan pendapat dan memberi kesempatan berekspresi, memupuk perasaan bergotong royong, memupuk rasa tenggung jawab, membantu murid dan menghadapi mata pelajaran lain, memupuk rasa ketuhanan, menghilangkan rasa malu yang tidak beralasan dsb. Agar para guru di dalam memilih drama sesuai dengan perkembangan anak, berikut ini dikemukakan kriteria memilih drama, yaitu: sudut bahasa, kematangan jiwa, dan sudut latar belakang budaya.

Pembelajaran Drama

Ada banyak strategi pembelajaran apresiasi sastra (Wardani, 1981, Gani, 1981, 1988; Moody, 1971; Treffinger, 1982; Rahmanto, 1981). Probst (dalam Gani, 1988: 14) menyebutkan bahwa pengajaran sastra harus memampukan siswa menemukan hubungan antara pangalamannya dengan karya sastra yang bersangkutan. 

Dari pergaulan itu siswa menjadi sadar bahwa dirinya telah memperoleh keindahan dan kesenangan. Oleh karena itu pembelajaran apresiasi sastra hendaknya dilakukan dengan cara membiasakan siswa bergaul dan bermain dengan karya sastra (drama). Dengan banyak bergaul dan bermain dengan karya sastra diharapkan pada diri siswa timbul sikap positif terhadap karya sastra (Akhdiah,1991/1992: 108). 

Berikut dua strategi pembelajaran drama yang mudah dilaksanakan, 

yaitu a) Strategi Strata, strategi pembelajaran menggunakan tiga tahapan, tahapan penjelajahan, interpretasi, dan re-kreasi. Tahap penjelajahan, dilakukan guru dengan memberikan contoh drama, kemudian para siswa disuruh membaca dan memahaminya. Kalau naskah panjang dapat dilakukan di rumah.Tahap interpretasi, siswa disusruh berdiskusi kelompok tentang alur, konflik fisik atau batin, siapa tokoh dan bagaimana wataknya, apa tema drama tersebut. 

Pada tahap re-kresasi, meminta siswa mengkreasikan drama, misalnya menjadi cerpen, dll. b) Strategi Analisis, mula-mula menganalisis seperti tokoh dan penokohan, alur, latar, dan tema. Selanjutnya mencari hubungan antarbagian, misalnya hubungan alur-tokoh-latar. 

Tahapan strategi ini, 
1) Para siswa diminta membaca teks drama secara keseluruhan,
 2) Menganalisis unsur pembangun teks drama, seperti tokoh, alur, latar, tema, serta keterkaitannya., 
3) Memberikan pendapat akhir, yaitu respon subjektif dari siswa berdasar analisis objektif yang telah dilakukan. Langkahnya, siswa secara kelompok atau mandiri menyusun pendapatnya yang dilengkapi dengan alasan.   

Herman J. Waluyo (2008: 196) menentukan 9 langkah Role Playing (Bermain Peran) dalam pembelajaran apresiasi drama, sebagai berikut:

(1) memotivasi kelompok, (2) memilih pemeran (casting), menyiapkan pengamat, (4) menyiapkan tahap-tahap peran, (5) pemeranan (pentas di depan kelas), (6) diskusi dan evaluasi I (spontanitas), (7) pemeranan (pentas) ulang, (8) diskusi dan evaluasi II, pemecahan masalah danh (9) membagi pengalaman dan menarik generalisasi.

Langkah- langkah penerapan Role Playing dalam pembelajaran apresiasi drama:

1.    Guru menyusun /menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.
2.    Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM berlangsung.
3.    Guru membentuk kelompok yang anggotanya 5 orang.
4.    Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
5.    Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
6.    Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, dan sambil memperhatikan/mengamati skenario yang sedang diperagakan.
7.    Setelah selesai dipentaskan masing-masing siswa diberikan lembar kerja.
8.    Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
9.    Guru memberikan kesimpulan secara umum.
10.    Evaluasi,
11.    Penutup.

Semoga informasi ini bermanfaat ya Emak Cantik :)

0 komentar